NKRI, KONFLIK AGAMA DAN SUMPAH SETIA PADA PANCASILA DAN UUD 1945
Konflik antar pemeluk agama, khususnya antar pemeluk agama Islam – Kristen dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seyogiyanya tidak berlarut-larut terjadi hingga dewasa ini bila aparatur negara dan masyarakat sungguh-sungguh setia dan taat sepenuhnya pada Pancasila dan UUD 1945. Sebab Pancasila dan UUD 1945 memang dimaksudkan para pendiri bangsa (the founding fathers) untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia dari aneka ancaman dan gangguan baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Para pendiri bangsa kita yang telah melahirkan dan membentuk negara ini dengan pemikiran arif dan bijaksana, dan dengan pandangan yang jauh ke depan telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dan teguh di atas nama negara ini dapat tumbuh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang berbhinneka tunggal ika.
NKRI
Adapun prinsip dasar yang diletakkan adalah negara kesatuan yang bersifat integralistik dengan menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan yang ditetapkan dalam rumusan UUD 1945 dan Pancasila. Itu berarti hakekat kebangsaan kita adalah memberikan ruang dan kesempatan kewilayaan/ kedaerahan, golongan, keagamaan yang semakin dewasa dan mandiri dan tidak bisa tidak harus bertolak dari fakta bahwa memang wilayah negara ini sangat luas, yang di dalamnya hidup masyarakat yang terdiri berbagai suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan lain sebagainya.
Berangkat dari prinsip dasar NKRI tersebut, the founding fathers menetapkan tujuan-tujuan yang harus dijalankan oleh negara, dalam hal ini pemerintah. Salah satu tujuan tersebut adalah melindungi segenap bangsa Indonesia yang beraneka ragam termasuk melindungi dari ancaman dan gangguan terhadap para pemeluk agama.
Tujuan tersebut merupakan hasil konsensus nasional dan pemikiran inklusif dan cerdas para pendiri bangsa. Segenap bangsa Indonesia harus dilindungi. Artinya negara menaungi (agar tidak kepanasan), mengalangi (agar tidak dikenai tembakan dan pengrusakan) dan menjaga (agar selamat). Tentu semua itu dalam korridor hukum.
Pelaksana utama dan terutama dalam melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia tersebut adalah aparat negara yaitu pelaksana tugas pemerintahan. Aparatur negara adalah perangkat pemerintahan meliputi lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif. Semua lembaga tersebut saling terkait dan bekerja bersama-sama sesuai dengan bidangnya dalam menggapai tujuan NKRI yaitu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia termasuk melindungi pemeluk agama-agama yang ada di dalamnya.
Konflik Agama Islam-Kristen
Konflik antar pemeluk agama khususnya Islam – Kristen terjadi tidak hanya di Indonesia.
Namun dalam konteks NKRI, negara dalam hal ini pemerintah merupakan tameng perlindungan bagi segenap bangsa terutama warga pemeluk agama yang tertindas dan teraniaya.
Kenyataan menunjukkan, negara yang diwakili oleh pemerintah NKRI, relatif belum berhasil melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia. Hal ini terlihat dari perjalanan bangsa dimana konflik antara agama Islam – Kristen menimbulkan korban ketidakadilan.
Pada masa Orde Lama, konflik Islam – Kristen ditandai dengan pemberontakan DI/ TII/ NII, perdebatan konstituante, dan masalah penyiaran agama. Ada keinginan sebagian pemeluk agama untuk membentuk nusantara menjadi negara agama.
Pada masa Orde Baru, konflik agama diindikasikan dengan kebijakan pemerintah yang memutuskan SKB No 1/ 1969 tentang pembangunan rumah ibadah, RUU Perkawinan 1973, perkawinan beda agama, RUU Pendidikan Nasional, RUU Peradilan Agama, serta rangkaian kerusuhan dan pengrusakan gereja. Konflik tersebut menimbulkan korban baik secara fisik maupun batiniah bagi pemeluk agama yang tertindas.
Dewasa ini, di era “reformasi” konflik agama Islam – Kristen ditandai dengan rangkaian kerusuhan di Kupang, Poso, Ambon-Maluku, Kalimantan, rangkaian ledakan bom di beberapa gereja, isu Piagam Jakarta dan amandemen UUD 1945, UU Pendidikan Nasional 2003, Fatwa MUI yang mengharamkan pluralisme, liberalisme dan sekularisme dan terakhir penutupan paksa sejumlah bangunan gereja dan perumahan yang digunakan sebagai tempat ibadah. Konflik Islam – Kristen tetap terjadi secara terselubung dan bahkan secara terang-terangan dengan berbagai jalur yang memungkinkan.
Barangkali konflik agama antara pemeluk agama Islam dan Kristen tidak akan pernah berakhir (?), namun tugas negara tetap melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia terlepas dari apapun agama atau kepercayaannya.
Sepanjang sejarah, penanganan konflik antar pemeluk agama Islam – Kristen berada di tangan negara. Seturut era “reformasi”, kewenangan pembangunan bangsa di bidang agama tetap berada di tangan pemerintah pusat. Sebagaimana disebutkan dalam UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan PP Nomor 25 Tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan pemerintah provinsi sebagai daerah otonom. Pemerintah Pusat disebutkan mempunyai kewenangan di bidang agama dan kewenangan itu tidak diserahkan ke pemerintah daerah. Tentu kebijakan ini bertujuan untuk melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia.
Juga jelas sekali kalau kita mengacu pada Pancasila dan UUD 1945, aparatur pemerintah pusat lewat kantor wilayah dan bawahannya seyogiyanya melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia dari segala bentuk penganiayaan dan penindasan. Sebab perlindungan tersebut adalah panggilan pemerintah sebagai aparat negara NKRI.
Sumpah Setia
Kita semua tahu, bahwa semua warga masyarakat NKRI harus setia dan taat dan teristimewa aparat negara (pegawai negeri sipil, TNI dan Polisi RI) harus mengangkat sumpah setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila dan UUD 1945. Juga mereka bersumpah bahwa mereka mengutamakan kepentingan negara di atas kepentingan golongan dan diri sendiri (PP No 32 Tahun 1980).
NKRI sudah 60 tahun merdeka. Enam puluh tahun pula kita semua membacakan dan mendengarkan Pancasila dan UUD 1945 ketika Upacara Bendera pada hari-hari besar negara. Yang lebih istimewa adalah aparat negara selalu diangkat sumpah untuk setia pada Pancasila dan UUD 1945. Sayangnya banyak aparatur negara masih berada pada tataran bersumpah setia “tentang” Pancasila dan UUD 1945 di mulut, namun belum “benar-benar” bersumpah setia dalam pelaksanaan tugas.
Ketidaksetiaan pada Pancasila dan UUD 1945dalam hidup bernegara, berbangsa dan bernegara terlihat dari adanya pemeluk agama yang tertindas, dan rumah ibadahnya dirusak dan dibakar, merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme, ketidakadilan pemerataan pendapatan negara dan penegakan hukum yang relatif belum berjalan.
Jika kita tetap demikian maka tantangan terbesar adalah kelangsungan dan keutuhan negeri ini sebagai NKRI. Ancaman disintegrasi, dan terpecah-belah oleh konflik karena latar belakang perbedaan suku, agama, ras dan antargolongan akan selalu mengerogoti kita.
Namun bila kita masih menghendaki kelangsungan dan keutuhan NKRI maka tidak bisa tidak pemerintah harus melindungi segenap bangsa dan taumpah darah Indonesia dari ancaman kekerasan, penganiayaan, pengrusakan, pembakaran, pemanipulasian, pembodohan dan ancaman-ancaman lainnya. Untuk itu pewujudnyataan sumpah setia pada Pancasila dan UUD 1945 masih harus tetap diusahakan bersama. Semoga.
KonflikAgama
Tingginya kepercayaan antar umat beragama adalah syarat mutlak bagi hadirnya pengelolaan konflik agama yang cerdas yang memungkinkan agama-agama itu hidup rukun dan damai, karena penyelesaian konflik membutuhkan komunikasi, dan komunikasi dapat terjadi karena adanya rasa saling percaya. Konflik sesungguhnya merupakan sesuatu yang alami, konflik adalah sesuatu yang inheren, demikian juga dengan konflik agama. Konflik agama telah ada ketika agama-agama itu ada. Selama manusia tak mampu membebaskan diri dari stereotype negatif tentang agama lain, konflik agama akan terus ada.
Meski demikian, konflik itu sendiri sesungguhnya memiliki peluang dan ancaman di dalam dirinya. Karena itu, pengelolaan konflik secara cerdas dalam hal ini sangat dibutuhkan agar penyelesaian konflik membawa pada suatu kehidupan bersama yang lebih baik (peluang), bukannya malah mengorbankannya untuk kemudian meledak dalam bentuk kekerasan (ancaman). Jadi, hal yang utama bukanlah bagaimana meniadakan konflik, tapi bagaimana mengelola konflik tersebut secara benar melalui penggunaan saluran-saluran yang benar, agar tidak berujung pada kekerasan.
Kehidupan beragama di Indonesia pada awalnya berjalan dengan mulus. Sejak kemerdekaan NKRI tahun 1945-1964 tidak ada insiden berarti dalam hubungan antar umat beragama. Insiden pengrusakan rumah ibadah (gereja) baru terjadi pada masa orde baru. Dan pada tahun 1985-1997 terjadi 237 kasus penutupan, pengrusakan dan pembakaran gereja, sekitar 63%.
Pada era orde lama maupun orde baru, konflik lebih disebabkan oleh ketidakpuasan sekelompok masyarakat terhadap pemerintah, berupa usaha-usaha untuk memisahkan diri dari negara kesatuan RI. Namun, pada masa reformasi panggung konflik di Indonesia beralih ke etnis dan agama yang berujung pada kekerasan sesungguhnya bukanlah warisan sejarah Indonesia.
Mengamati konflik agama yang terjadi yang berujung pada kekerasan di Indonesia, di sana terlihat bahwa tampaknya pemerintah sering kali mengambil posisi strategis, pemerintah dalam hal ini bisa dituduh melakukan kejahatan dengan membiarkan kekerasan berdasarkan agama (crime by omission). Pembiaran pemerintahlah yang menyebabkan konflik menyebar secara cepat. Malangnya, penyelesaian konflik di negeri ini tak pernah tuntas. Akibatnya, negeri yang dahulu terkenal dengan kerukunannya itu kini menjadi negeri yang rentan dengan konflik kekerasan yang amat memprihatinkan. Tepatlah apa yang dikatakan Robert W. Hefner bahwa kekerasan agama terjadi karena negara memanfaatkan agama (politisasi agama).
Konflik agama di Indonesia makin sulit dihindari karena terjadinya pengelompokkan berdasarkan agama. Pengelompokkan (clustering) berdasarkan agama ini menyebabkan timbulnya kesalahpahaman akan kepercayaan yang beragam tersebut, kesalahpahaman tersebut menyebabkan hubungan di masyarakat lebih rentan konflik, dan jika konflik pecah, sulit diselesaikan.
Itulah sebabnya pada peringatan hari jadi Singapura, Minggu (2/8), dalam pidato bertajuk tantangan masa depan Singapura, Menteri Senior Goh Chok Tong mengingatkan agar Singapura mewaspadai potensi bahaya yang meningkat dengan semakin religiusnya warga Singapura. Menurutnya, semakin religious seseorang akan membuat orang membentuk kelompok hanya dengan pemilik kepercayaan yang sama, yang kemudian bermuara pada pembagian kelompok-kelompok berdasarkan agama. Ini akan emnyebabkan timbulnya kesalahpahaman akibat kurangnya pemahaman akan kepercayaan yang beragam tersebut, kesalahpahaman tersebut bisa menimbulkan konflik agama.
Sumber Reformed Center for Religion Society
Tampilkan postingan dengan label FURKANNY 32410902. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FURKANNY 32410902. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Februari 2011
Senin, 10 Januari 2011
Tokoh Muda Yang Memberi Inspirasi
Pasti semua sudah pernah dengar kan yang namanya Kaskus, komunitas forum terbesar di Indonesia. wah ternyata foundernya masih muda-muda. Sempat dilirik Yahoo dan Microsot juga loh. Mengapa saya memilih artikel tentang biografi tentang founder Kaskus pada tugas IBD saya, karena penemu Kaskus ini, yaitu Andrew Darwis telah memberi inspirasi bagi kaum muda-mudi di Negara Indonesia yang kreatif dalam membuat web.
Kaskus, salah satu sarana untuk mencari, menjual, atau bahkan membeli barang dengan online, dengan adanya kaskus para muda – mudi di permudah untuk melakukan transaksi bisnis yang pastinya memberikan keuntungan, bagi generasi muda Indonesia yang senang membuat web, buatlah web yang unik dan beda dari yang lain, seperti kaskus ini. Seperti yang di bilang oleh Andrew “ Jangan berfikir untuk membuat sesuatu yang besar, kita musti punya passion, jangan di tengah jalan terus mundur.
Berikut dikutip dari posting di forum kaskus:
Nama: Andrew Darwis
Lahir : Jakarta, 20 Juli 1979
Kuliah: Computer Science, Seattle University
Nama: Ken Dean Lawadinata
Lahir: Jakarta, 6 Januari 1986
Kuliah: Finance, Seattle University
Awalnya Andrew Darwis mendirikan Kaskus bertujuan untuk mengembangkan hobinya berkomunitas di dunia maya. Namun kini, Kaskus menjadi situs komunitas terbesar di Indonesia.
"Awalnya Kaskus dibuat untuk menyalurkan hobi berkomunitas saya di internet," katanya. Obsesi terbesarnya sejak awal masa kuliah di Amerika Serikat pada 1999 itu, sulit tercapai, karena tak ada satu pun situs komunitas di Indonesia.
Pada awalnya perjalanan bisnis Kaskus sangat lambat, untuk menggaet anggota satu orang saja, butuh waktu lama. Bayangkan, dalam seminggu saja mereka hanya mampu mengundang paling banyak tiga orang. Kondisi itu bertahan selama mereka sekolah dan bekerja di AS.
Kemudian, setelah perkembangan internet semakin pesat di Indonesia, dua sekawan itu bersepakat pulang ke Indonesia untuk mengelola situs komunitas di negerinya sendiri. Dari sebuah kantor di kawasan Jakarta Kota, awal 2008, mereka bahu membahu mengelola situs. Dua bulan berselang, Kaskus resmi menjadi perusahaan profesional dengan nama PT Darta Media Indonesia.
Setelah itu, Kaskus terus berbenah. Bersama timnya, Andrew tak segan turun langsung menangani perusahaan hingga ke masalah promosi. Pada enam bulan pertama sejak menjadi perusahaan profesional, perkembangan Kaskus terbilang stagnan.
Namun dengan perjuangan keras, kondisi sulit itu berubah membaik, hingga akhir 2008. Darwis mengklaim, jumlah anggota komunitasnya tumbuh empat kali lipat dari semula. Jumlah itu membuat keanggotaan Kaskus yang berasal dari seluruh dunia menjadi yang terbanyak dibanding siapa pun dan tanpa dipetakan kisarannya.
Saat ini keanggotaan yang masuk ke kaskus mencapai 1,1 juta orang. Tidak hanya mampu menggaet anggota baru dalam kisaran 150-250 orang per hari, banyak kaskuser (anggota komunitas Kaskus) yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota, tetap setia aktif menjadi anggota.
Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Jual Beli dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam forum jual beli (FJB).
Karena terus tumbuh, pemasukan iklan ke perusahaan pun mengalir. Kata Andrew, awalnya konten iklan sangat sulit didapat karena banyak perusahaan yang tidak mengenal Kaskus.
Namun, karena usaha keras dan upaya mengenalkan Kaskus ke publik secara terus menerus, perusahaan-perusahaan yang ingin mengiklankan produknya dalam kasus terus meningkat dan bahkan banyak yang masuk daftar tunggu.
Andrew Darwis mendirikan Kaskus pada 6 November 1999. Bermula dari pengalamannya saat menimba ilmu di salah satu universitas terkemuka di Negeri Paman Sam, Seattle University, Program Studi Multimedia & Web Design, Art Institute of Seattle Computer Science di tahun 1999, pria yang disapa Andrew ini terinspirasi membuat website forum komunitas yang bisa di bilang menjadi yang terbesar di Indonesia. Sebelum ke AS, dia sebetulnya sudah merasakan gajian dengan kerja paruh waktu di perusahaan Web Design di Jakarta. Ada dua perusahaan yang menggunakan jasanya, yaitu kemana.com dan indotradezone.com. Saat itu pada 1998, gajinya Rp 500 ribu, sehingga bisa membantu biaya kuliahnya di Jurusan Manajemen Informasi, Universitas Bina Nusantara.
Pada awal 1999, Andrew merasa butuh sekolah yang lebih fokus lagi, terutama yang bisa mendalami ilmu membuat website. “Tapi nggak ketemu di Indonesia. Sampai akhirnya teman yang sudah sekolah di Amerika kasih tahu bahwa ada di Seattle. Ya sudah saya keluar dari kampus di Jakarta, berangkat ke sana,” ulasnya.
Sambil kuliah untuk mendapat gelar sarjana di Art Institute of Seattle itu Andrew dipekerjakan di bagian perpustakaan kampus dan laboratorium komputer. “Tapi kerjanya nggak teknis komputer. Malah lebih ke beres-beres komputer, isi tinta dan kertas printer, ya begitu begitu saja,” ungkap pria yang matanya minus 1,5 itu.
Begitu kuliah selesai, Andrew mendapat pekerjaan di kota yang sama di perusahaan web design Thor Loki selama tiga tahun dengan gaji per bulan USD 1500. “Gajinya sebetulnya kecil. Karena standar gaji web design di sana itu minimal USD 3000. Tapi berhubung cari kerja susah ya saya ambil,” ujarnya.
Sambil bekerja, Andrew melanjutkan kuliah S2 di Seattle University Jurusan Computer Science. Setelah lulus, dia pindah kerja dengan membangun portal musik, lyrics.com. Otaknya hanya berdua, dia dan bosnya keturunan Vietnam yang sudah menjadi warga AS. “Di sini gajinya jauh lebih besar,” akunya.
Di tengah kesibukan bekerja dan menyelesaikan sekolah itu, Andrew tidak pernah lupa untuk tetap mengembangkan Kaskus sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya pada 2008, dia merasa harus pulang dan fokus di Kaskus. “Sebenarnya saat itu kalau mau tinggal di Amerika sudah enak. Sudah punya pekerjaan. Walaupun gaji tidak besar, tapi cukup untuk kredit rumah dan mobil,” ulasnya.
Keyakinan bahwa Kaskus akan besar yang membuat Andrew akhirnya pulang juga. Terlebih dia juga diyakinkan oleh Ken dan Danny bahwa membernya di Indonesia terus meningkat. MENURUT data Alexa (The web information company) terbaru, Kaskus yang merupakan portal berita dan forum komunikasi itu menempati urutan enam dari daftar Top 100 Sites in Indonesia.
Kaskus ada di bawah deretan dominasi portal asing, yaitu facebook.com, google.co.id, google.com, yahoo.com, dan blogger.com. “Maka kaskus adalah situs Indonesia nomor satu,” ujar Andrew Darwis, founder sekaligus Chief Technical Officer (CTO) Kaskus Networks. Kaskus berasal dari kata Kasak-Kusuk atau bermakna bergosip. Dengan modal awal sebesar US$ 3 (Rp 30 ribu) untuk membeli server Andrew dan dua rekannya, Ronald dan Budi, memilih untuk membuat portal yang berisi mengenai berita maupun informasi tentang Indonesia. Portal tersebut sengaja di buat menjadi suatu media untuk memuaskan kerinduan bagi masyarakat Indonesia yang berada di Luar negeri. Manfaatnya adalah semakin membaiknya geliat bisnis online, serta banyaknya orang yang memulai bisnis online dilihat Andrew sebagai potensi besar yang mendukung perkembangan Kaskus. Berdasarkan survey, terdapat lebih dari 40 juta pengguna Internet di Indonesia. Dengan jumlah yang luar biasa tersebut, ia mengasumsikan bahwa masing-masing pengguna Internet adalah target pasar yang potensial.
Kendalanya Andrew mengaku bahwa kendala terberat dialaminya saat awal pembentukan Kaskus. Ia harus turun tangan langsung dan memperbaiki apabila ada server yang down, karena saat itu Andrew belum memiliki karyawan. Selain itu kendala terberat juga dialaminya ketika pindah ke Jakarta, karenai ia harus meyakinkan customer dan advertiser mengenai citra Kaskus.
Pemasarannya Andrew dan timnya di awal usaha harus bergeriliya door to door ke klien untuk memperkenalkan positioning Kaskus dan tidak sampai 1 tahun, Kaskus sudah banyak dipercaya oleh client-client besar yang sudah mendukung Kaskus sejak pertama kali Kaskus launching pada Desember 2008. Berselang 2 bulan kemudian Kaskus resmi menjadi perusahaan professional di bawah bendera PT. Darta Media Indonesia.
Saat ini tercatat Kaskus memiliki 1.755.000 member(update pertanggal 08 Juni 2010 pada pukul 15.30) dan terus bertambah tiap detiknya. Kaskus memiliki target pasar dari usia 15-40 tahun baik kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan, professional dan entrepreneur.
Berbagai penghargaan juga diterima oleh Andrew di antaranya The Best Indonesian Communities for 2005 and 2006 versi Alexa.com dan Wikipedia, dari Microsoft dengan nominasi Kaskus Indonesia Innovative Top Web Site di tahun 2008, dan dari Indosat dengan nominasi Kaskus The Online Inspiring Award di tahun 2009
Saat ini untuk me-manage Kaskus, Andrew dibantu 30 orang karyawan yang terbagi dalam tim marketing, sales, IT dan creative. Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Jual Beli (FJB) dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam Forum Jual Beli (FJB).Obsesi yang ingin diraih Andrew untuk pengembangan bisnis online-nya adalah terus mengembangkan content (fasilitas yang ada di dalam website) Di Indonesia, sehingga nantinya orang luar negerilah yang akan membeli content itu.
Sumber: WikipediaDi sela-sela meriahnya acara launching Kaskus AD & dua forum baru dari Kaskus yang bertempat di e'Corner Resto & Lounge, Epicentrum Walk, Jakarta, pada Rabu petang, 25 Agustus 2010 lalu. Kru KotGa mengambil kesempatan untuk mewawancarai Andrew Darwis, founder dan admin dari Kaskus.
Kaskus sendiri merupakan forum diskusi online yang mengklaim dirinya sebagai forum komunitas terbesar di Indonesia. Dari sinilah, kita ketahui bersama menjadi titik awal bagi beberapa gamer yang bersama-sama memulai investigasi tentang kasus pembohongan publik yang dilakukan oleh Eko Ramaditya Adikara.
Mengetahui kebohongan dari Rama, Andrew Darwis mengatakan, "Kaget karena ternyata kok begini. Beberapa waktu lalu, saya melihat dan mengetahui tentang Rama dari Kick Andy di Metro TV. Saat itu, saya merasa bahwa dia hebat karena sebagai orang yang memiliki kekurangan sebagai tuna netra, mampu menciptakan lagu."
"Namun ternyata belakangan ketahuan bahwa dia berbohong. Yah, saya lumayan kecewa juga. Aduh, kenapa kok sampai berbohong seperti itu, ya," sambung pria muda yang akrab disapa sebagai Mimin oleh para Kaskuser. "Saya juga mengetahui hal tersebut karena sempat heboh di Kaskus."
Menurut Andrew, hal tersebut sekaligus juga membuktikan bahwa forum Kaskus menjunjung kebebasan untuk berbicara. Kaskus yang termasuk dalam kategori Web 2.0, membebaskan para Kaskuser untuk memberikan konten di dalam Kaskus yang memfungsikan diri sebagai media atau wadah bagi mereka untuk berkomunikasi.
"Dari sisi Kaskus sebagai media, kami senang bahwa hal (seperti kasus Rama) tersebut berkembang & bermanfaat menjadi edukasi atau pembelajaran. Membuka mata bagi semua pihak dengan diungkapnya hal tersebut di Kaskus melalui segala proses investigasi yang dilakukan para Kaskuser secara detail," jelasnya lagi.
Andrew menambahkan bahwa para petinggi di Kaskus juga mendukung diskusi yang mengungkap kebohongan Rama tersebut tetap berjalan karena didukung dengan bukti-bukti yang nyata. "Dan akhirnya ketahuan kalau Rama adalah hoax. Merupakan sebuah kebohongan," ujarnya.
Saat ditanyakan mengenai kesannya atas Kaskus sebagai awal mula pengungkapan kebohongan Rama, Andrew merasakan kebanggaan atas Kaskus secara bersama sebagai komunitas karena sebegitu loyalnya para Kaskuser dalam berusaha mencari, melacak, dan menginvestigasi semuanya atas sebuah kasus.
Tidak hanya dalam hal kasus Rama saja, namun juga di beberapa kasus lain yang pembahasannya sering bermula dari Kaskus. Andrew bertutur, "Kaskus boleh dibilang mainstream, menjadi awal atas segala berita-berita maupun kasus-kasus yang muncul. Seperti black box dari Adam Air atau makhluk air misterius dari Ancol."
Selain itu, Andrew menekankan bahwa Kaskus juga memiliki tujuan untuk mengembangkan konten lokal di internet. Cita-cita yang ingin dicapai adalah bermunculannya penyedia konten dari Indonesia di internet dalam jumlah banyak, seperti Kaskus sendiri, KotakGame, atau sekelas YouTube dan Facebook.
"Kami ingin mengembangkan yang seperti itu hingga bisa dikonsumsi sebagai konten lokal. Konten punya kita sendiri. Sehingga suatu saat bisa muncul seperti YouTube versi Indonesia yang berkembang secara mendunia dan mengakibatkan orang-orang dari belahan bumi lain akan mengakses ke jaringan Indonesia," jelasnya.
Menyambung penjelasannya itu, KaskusAD yang di-launch di petang itu adalah salah satu bentuk usaha mereka ke sana. KaskusAD adalah fasilitas pemasangan iklan yang dapat dilakukan langsung oleh para penggunanya. Layanan ini juga menawarkan fleksibilitas dalam penentuan budget dan pemilihan jenis layanan iklan.
Selain itu, masih dalam acara yang sama, juga ditampilkan dua buah forum baru, yaitu Forum Ilmu Marketing dan Forum Fit & Healthy Lifestyle. Kedua forum ini nantinya akan banyak dipandu oleh komunitas Marketeers yang bergerak di bawah payung MarkPlus,Inc dan Ade Rai sebagai kontributor.
Kaskus, salah satu sarana untuk mencari, menjual, atau bahkan membeli barang dengan online, dengan adanya kaskus para muda – mudi di permudah untuk melakukan transaksi bisnis yang pastinya memberikan keuntungan, bagi generasi muda Indonesia yang senang membuat web, buatlah web yang unik dan beda dari yang lain, seperti kaskus ini. Seperti yang di bilang oleh Andrew “ Jangan berfikir untuk membuat sesuatu yang besar, kita musti punya passion, jangan di tengah jalan terus mundur.
Berikut dikutip dari posting di forum kaskus:
Nama: Andrew Darwis
Lahir : Jakarta, 20 Juli 1979
Kuliah: Computer Science, Seattle University
Nama: Ken Dean Lawadinata
Lahir: Jakarta, 6 Januari 1986
Kuliah: Finance, Seattle University
Awalnya Andrew Darwis mendirikan Kaskus bertujuan untuk mengembangkan hobinya berkomunitas di dunia maya. Namun kini, Kaskus menjadi situs komunitas terbesar di Indonesia.
"Awalnya Kaskus dibuat untuk menyalurkan hobi berkomunitas saya di internet," katanya. Obsesi terbesarnya sejak awal masa kuliah di Amerika Serikat pada 1999 itu, sulit tercapai, karena tak ada satu pun situs komunitas di Indonesia.
Pada awalnya perjalanan bisnis Kaskus sangat lambat, untuk menggaet anggota satu orang saja, butuh waktu lama. Bayangkan, dalam seminggu saja mereka hanya mampu mengundang paling banyak tiga orang. Kondisi itu bertahan selama mereka sekolah dan bekerja di AS.
Kemudian, setelah perkembangan internet semakin pesat di Indonesia, dua sekawan itu bersepakat pulang ke Indonesia untuk mengelola situs komunitas di negerinya sendiri. Dari sebuah kantor di kawasan Jakarta Kota, awal 2008, mereka bahu membahu mengelola situs. Dua bulan berselang, Kaskus resmi menjadi perusahaan profesional dengan nama PT Darta Media Indonesia.
Setelah itu, Kaskus terus berbenah. Bersama timnya, Andrew tak segan turun langsung menangani perusahaan hingga ke masalah promosi. Pada enam bulan pertama sejak menjadi perusahaan profesional, perkembangan Kaskus terbilang stagnan.
Namun dengan perjuangan keras, kondisi sulit itu berubah membaik, hingga akhir 2008. Darwis mengklaim, jumlah anggota komunitasnya tumbuh empat kali lipat dari semula. Jumlah itu membuat keanggotaan Kaskus yang berasal dari seluruh dunia menjadi yang terbanyak dibanding siapa pun dan tanpa dipetakan kisarannya.
Saat ini keanggotaan yang masuk ke kaskus mencapai 1,1 juta orang. Tidak hanya mampu menggaet anggota baru dalam kisaran 150-250 orang per hari, banyak kaskuser (anggota komunitas Kaskus) yang sudah bertahun-tahun menjadi anggota, tetap setia aktif menjadi anggota.
Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Jual Beli dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam forum jual beli (FJB).
Karena terus tumbuh, pemasukan iklan ke perusahaan pun mengalir. Kata Andrew, awalnya konten iklan sangat sulit didapat karena banyak perusahaan yang tidak mengenal Kaskus.
Namun, karena usaha keras dan upaya mengenalkan Kaskus ke publik secara terus menerus, perusahaan-perusahaan yang ingin mengiklankan produknya dalam kasus terus meningkat dan bahkan banyak yang masuk daftar tunggu.
Andrew Darwis mendirikan Kaskus pada 6 November 1999. Bermula dari pengalamannya saat menimba ilmu di salah satu universitas terkemuka di Negeri Paman Sam, Seattle University, Program Studi Multimedia & Web Design, Art Institute of Seattle Computer Science di tahun 1999, pria yang disapa Andrew ini terinspirasi membuat website forum komunitas yang bisa di bilang menjadi yang terbesar di Indonesia. Sebelum ke AS, dia sebetulnya sudah merasakan gajian dengan kerja paruh waktu di perusahaan Web Design di Jakarta. Ada dua perusahaan yang menggunakan jasanya, yaitu kemana.com dan indotradezone.com. Saat itu pada 1998, gajinya Rp 500 ribu, sehingga bisa membantu biaya kuliahnya di Jurusan Manajemen Informasi, Universitas Bina Nusantara.
Pada awal 1999, Andrew merasa butuh sekolah yang lebih fokus lagi, terutama yang bisa mendalami ilmu membuat website. “Tapi nggak ketemu di Indonesia. Sampai akhirnya teman yang sudah sekolah di Amerika kasih tahu bahwa ada di Seattle. Ya sudah saya keluar dari kampus di Jakarta, berangkat ke sana,” ulasnya.
Sambil kuliah untuk mendapat gelar sarjana di Art Institute of Seattle itu Andrew dipekerjakan di bagian perpustakaan kampus dan laboratorium komputer. “Tapi kerjanya nggak teknis komputer. Malah lebih ke beres-beres komputer, isi tinta dan kertas printer, ya begitu begitu saja,” ungkap pria yang matanya minus 1,5 itu.
Begitu kuliah selesai, Andrew mendapat pekerjaan di kota yang sama di perusahaan web design Thor Loki selama tiga tahun dengan gaji per bulan USD 1500. “Gajinya sebetulnya kecil. Karena standar gaji web design di sana itu minimal USD 3000. Tapi berhubung cari kerja susah ya saya ambil,” ujarnya.
Sambil bekerja, Andrew melanjutkan kuliah S2 di Seattle University Jurusan Computer Science. Setelah lulus, dia pindah kerja dengan membangun portal musik, lyrics.com. Otaknya hanya berdua, dia dan bosnya keturunan Vietnam yang sudah menjadi warga AS. “Di sini gajinya jauh lebih besar,” akunya.
Di tengah kesibukan bekerja dan menyelesaikan sekolah itu, Andrew tidak pernah lupa untuk tetap mengembangkan Kaskus sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya pada 2008, dia merasa harus pulang dan fokus di Kaskus. “Sebenarnya saat itu kalau mau tinggal di Amerika sudah enak. Sudah punya pekerjaan. Walaupun gaji tidak besar, tapi cukup untuk kredit rumah dan mobil,” ulasnya.
Keyakinan bahwa Kaskus akan besar yang membuat Andrew akhirnya pulang juga. Terlebih dia juga diyakinkan oleh Ken dan Danny bahwa membernya di Indonesia terus meningkat. MENURUT data Alexa (The web information company) terbaru, Kaskus yang merupakan portal berita dan forum komunikasi itu menempati urutan enam dari daftar Top 100 Sites in Indonesia.
Kaskus ada di bawah deretan dominasi portal asing, yaitu facebook.com, google.co.id, google.com, yahoo.com, dan blogger.com. “Maka kaskus adalah situs Indonesia nomor satu,” ujar Andrew Darwis, founder sekaligus Chief Technical Officer (CTO) Kaskus Networks. Kaskus berasal dari kata Kasak-Kusuk atau bermakna bergosip. Dengan modal awal sebesar US$ 3 (Rp 30 ribu) untuk membeli server Andrew dan dua rekannya, Ronald dan Budi, memilih untuk membuat portal yang berisi mengenai berita maupun informasi tentang Indonesia. Portal tersebut sengaja di buat menjadi suatu media untuk memuaskan kerinduan bagi masyarakat Indonesia yang berada di Luar negeri. Manfaatnya adalah semakin membaiknya geliat bisnis online, serta banyaknya orang yang memulai bisnis online dilihat Andrew sebagai potensi besar yang mendukung perkembangan Kaskus. Berdasarkan survey, terdapat lebih dari 40 juta pengguna Internet di Indonesia. Dengan jumlah yang luar biasa tersebut, ia mengasumsikan bahwa masing-masing pengguna Internet adalah target pasar yang potensial.
Kendalanya Andrew mengaku bahwa kendala terberat dialaminya saat awal pembentukan Kaskus. Ia harus turun tangan langsung dan memperbaiki apabila ada server yang down, karena saat itu Andrew belum memiliki karyawan. Selain itu kendala terberat juga dialaminya ketika pindah ke Jakarta, karenai ia harus meyakinkan customer dan advertiser mengenai citra Kaskus.
Pemasarannya Andrew dan timnya di awal usaha harus bergeriliya door to door ke klien untuk memperkenalkan positioning Kaskus dan tidak sampai 1 tahun, Kaskus sudah banyak dipercaya oleh client-client besar yang sudah mendukung Kaskus sejak pertama kali Kaskus launching pada Desember 2008. Berselang 2 bulan kemudian Kaskus resmi menjadi perusahaan professional di bawah bendera PT. Darta Media Indonesia.
Saat ini tercatat Kaskus memiliki 1.755.000 member(update pertanggal 08 Juni 2010 pada pukul 15.30) dan terus bertambah tiap detiknya. Kaskus memiliki target pasar dari usia 15-40 tahun baik kalangan pelajar, mahasiswa, karyawan, professional dan entrepreneur.
Berbagai penghargaan juga diterima oleh Andrew di antaranya The Best Indonesian Communities for 2005 and 2006 versi Alexa.com dan Wikipedia, dari Microsoft dengan nominasi Kaskus Indonesia Innovative Top Web Site di tahun 2008, dan dari Indosat dengan nominasi Kaskus The Online Inspiring Award di tahun 2009
Saat ini untuk me-manage Kaskus, Andrew dibantu 30 orang karyawan yang terbagi dalam tim marketing, sales, IT dan creative. Dari sekian banyak konten dalam Kaskus.us, tanpa ragu Andrew menyebut konten Jual Beli (FJB) dan Lounge sebagai terfavorit dikunjungi kaskuser. Para kaskuser yang berasal dari seluruh pelosok Indonesia itu bisa memanfaatkan konten ini untuk transaksi bisnis online. Dalam sehari saja, 80 ribu daftar barang, diikutkan dalam Forum Jual Beli (FJB).Obsesi yang ingin diraih Andrew untuk pengembangan bisnis online-nya adalah terus mengembangkan content (fasilitas yang ada di dalam website) Di Indonesia, sehingga nantinya orang luar negerilah yang akan membeli content itu.
Sumber: WikipediaDi sela-sela meriahnya acara launching Kaskus AD & dua forum baru dari Kaskus yang bertempat di e'Corner Resto & Lounge, Epicentrum Walk, Jakarta, pada Rabu petang, 25 Agustus 2010 lalu. Kru KotGa mengambil kesempatan untuk mewawancarai Andrew Darwis, founder dan admin dari Kaskus.
Kaskus sendiri merupakan forum diskusi online yang mengklaim dirinya sebagai forum komunitas terbesar di Indonesia. Dari sinilah, kita ketahui bersama menjadi titik awal bagi beberapa gamer yang bersama-sama memulai investigasi tentang kasus pembohongan publik yang dilakukan oleh Eko Ramaditya Adikara.
Mengetahui kebohongan dari Rama, Andrew Darwis mengatakan, "Kaget karena ternyata kok begini. Beberapa waktu lalu, saya melihat dan mengetahui tentang Rama dari Kick Andy di Metro TV. Saat itu, saya merasa bahwa dia hebat karena sebagai orang yang memiliki kekurangan sebagai tuna netra, mampu menciptakan lagu."
"Namun ternyata belakangan ketahuan bahwa dia berbohong. Yah, saya lumayan kecewa juga. Aduh, kenapa kok sampai berbohong seperti itu, ya," sambung pria muda yang akrab disapa sebagai Mimin oleh para Kaskuser. "Saya juga mengetahui hal tersebut karena sempat heboh di Kaskus."
Menurut Andrew, hal tersebut sekaligus juga membuktikan bahwa forum Kaskus menjunjung kebebasan untuk berbicara. Kaskus yang termasuk dalam kategori Web 2.0, membebaskan para Kaskuser untuk memberikan konten di dalam Kaskus yang memfungsikan diri sebagai media atau wadah bagi mereka untuk berkomunikasi.
"Dari sisi Kaskus sebagai media, kami senang bahwa hal (seperti kasus Rama) tersebut berkembang & bermanfaat menjadi edukasi atau pembelajaran. Membuka mata bagi semua pihak dengan diungkapnya hal tersebut di Kaskus melalui segala proses investigasi yang dilakukan para Kaskuser secara detail," jelasnya lagi.
Andrew menambahkan bahwa para petinggi di Kaskus juga mendukung diskusi yang mengungkap kebohongan Rama tersebut tetap berjalan karena didukung dengan bukti-bukti yang nyata. "Dan akhirnya ketahuan kalau Rama adalah hoax. Merupakan sebuah kebohongan," ujarnya.
Saat ditanyakan mengenai kesannya atas Kaskus sebagai awal mula pengungkapan kebohongan Rama, Andrew merasakan kebanggaan atas Kaskus secara bersama sebagai komunitas karena sebegitu loyalnya para Kaskuser dalam berusaha mencari, melacak, dan menginvestigasi semuanya atas sebuah kasus.
Tidak hanya dalam hal kasus Rama saja, namun juga di beberapa kasus lain yang pembahasannya sering bermula dari Kaskus. Andrew bertutur, "Kaskus boleh dibilang mainstream, menjadi awal atas segala berita-berita maupun kasus-kasus yang muncul. Seperti black box dari Adam Air atau makhluk air misterius dari Ancol."
Selain itu, Andrew menekankan bahwa Kaskus juga memiliki tujuan untuk mengembangkan konten lokal di internet. Cita-cita yang ingin dicapai adalah bermunculannya penyedia konten dari Indonesia di internet dalam jumlah banyak, seperti Kaskus sendiri, KotakGame, atau sekelas YouTube dan Facebook.
"Kami ingin mengembangkan yang seperti itu hingga bisa dikonsumsi sebagai konten lokal. Konten punya kita sendiri. Sehingga suatu saat bisa muncul seperti YouTube versi Indonesia yang berkembang secara mendunia dan mengakibatkan orang-orang dari belahan bumi lain akan mengakses ke jaringan Indonesia," jelasnya.
Menyambung penjelasannya itu, KaskusAD yang di-launch di petang itu adalah salah satu bentuk usaha mereka ke sana. KaskusAD adalah fasilitas pemasangan iklan yang dapat dilakukan langsung oleh para penggunanya. Layanan ini juga menawarkan fleksibilitas dalam penentuan budget dan pemilihan jenis layanan iklan.
Selain itu, masih dalam acara yang sama, juga ditampilkan dua buah forum baru, yaitu Forum Ilmu Marketing dan Forum Fit & Healthy Lifestyle. Kedua forum ini nantinya akan banyak dipandu oleh komunitas Marketeers yang bergerak di bawah payung MarkPlus,Inc dan Ade Rai sebagai kontributor.
Sabtu, 27 November 2010
STRATIFIKASI SOSIAL
PENDAHULUAN STRATIFIKASI SOSIAL
Masyarakat manusia terdiri dari beragam kelompok-kelompok orang yang ciri-ciri pembedanya bisa berupa warna kulit, tinggi badan, jenis kelamin, umur, tempat tinggal, kepercayaan agama atau politik, pendapatan atau pendidikan. Pembedaan ini sering kali dilakukan bahkan mungkin diperlukan.
Semua manusia dilahirkan sama seperti yang selama ini kita tahu, melalui pendapat para orang-orang bijak dan orang tua kita atau bahkan orang terdekat kita. Pendapat demikian ternyata tidak lebih dari omong kosong belaka yang selalu ditanamkan kepada setiap orang entah untuk apa mereka selalu menanamkan hal ini kepada kita.
Dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, kenyataan itu adalah ketidaksamaan. Beberapa pendapat sosiologis mengatakan dalam semua masyarakat dijumpai ketidaksamaan di berbagai bidang misalnya saja dalam dimensi ekonomi: sebagian anggota masyarakat mempunyai kekayaan yang berlimpah dan kesejahteraan hidupnya terjamin, sedangkan sisanya miskin dan hidup dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. Dalam dimensi yang lain misalnya kekuasaan: sebagian orang mempunyai kekuasaan, sedangkan yang lain dikuasai. Suka atau tidak suka inilah realitas masyarakat, setidaknya realitas yang hanya bisa ditangkap oleh panca indera dan kemampuan berpikir manusia. Pembedaan anggota masyarakat ini dalam sosiologi dinamakan startifikasi sosial.
Seringkali dalam pengalaman sehari-hari kita melihat fenomena sosial seperti seseorang yang tadinya mempunyai status tertentu di kemudian hari memperoleh status yang lebih tinggi dari pada status sebelumnya. Hal demikian disebut mobilitas sosial. Sistem Stratifikasi menuruf sifatnya dapat digolongkan menjadi straifikasi terbuka dan stratifikasi tertutup, contoh yang disebutkan diatas tadi merupakan contoh dari stratifikasi terbuka dimana mobilitas sosial dimungkinkan.
Suatu sistem stratifikasi dinamakan tertutup manakala setiap anggota masyarakat tetap pada status yang sama dengan orang tuanya, sedangkan dinamakan terbuka karena setiap anggota masyarakat menduduki status berbeda dengan orang tuanya, bisa lebih tinggi atau lebih rendah.
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat).Pengertian
Definisi sistematik antara lain dikemukakan oleh Pitirim A. Sorokin bahwa pelapisan sosial merupakan pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Perwujudannya adalah adanya lapisan-lapisan di dalam masyarakat, ada lapisan yang tinggi dan ada lapisan-lapisan di bawahnya. Setiap lapisan tersebut disebut strata sosial. P.J. Bouman menggunakan istilah tingkatan atau dalam bahasa belanda disebut stand, yaitu golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu dan menurut gengsi kemasyarakatan. Istilah stand juga dipakai oleh Max Weber.
Dasar-dasar pembentukan pelapisan sosial
Ukuran atau kriteria yang menonjol atau dominan sebagai dasar pembentukan pelapisan sosial adalah sebagai berikut.
Ukuran kekayaan
Kekayaan (materi atau kebendaan) dapat dijadikan ukuran penempatan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan sosial yang ada, barang siapa memiliki kekayaan paling banyak mana ia akan termasuk lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial, demikian pula sebaliknya, barang siapa tidak mempunyai kekayaan akan digolongkan ke dalam lapisan yang rendah. Kekayaan tersebut dapat dilihat antara lain pada bentuk tempat tinggal, benda-benda tersier yang dimilikinya, cara berpakaiannya, maupun kebiasaannya dalam berbelanja.
Ukuran kekuasaan dan wewenang
Seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar akan menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat yang bersangkutan. Ukuran kekuasaan sering tidak lepas dari ukuran kekayaan, sebab orang yang kaya dalam masyarakat biasanya dapat menguasai orang-orang lain yang tidak kaya, atau sebaliknya, kekuasaan dan wewenang dapat mendatangkan kekayaan.
Ukuran kehormatan
Ukuran kehormatan dapat terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang-orang yang disegani atau dihormati akan menempati lapisan atas dari sistem pelapisan sosial masyarakatnya. Ukuran kehormatan ini sangat terasa pada masyarakat tradisional, biasanya mereka sangat menghormati orang-orang yang banyak jasanya kepada masyarakat, para orang tua ataupun orang-orang yang berprilaku dan berbudi luhur.
Ukuran ilmu pengetahuan
Ukuran ilmu pengetahuan sering dipakai oleh anggota-anggota masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Seseorang yang paling menguasai ilmu pengetahuan akan menempati lapisan tinggi dalam sistem pelapisan sosial masyarakat yang bersangkutan. Penguasaan ilmu pengetahuan ini biasanya terdapat dalam gelar-gelar akademik (kesarjanaan), atau profesi yang disandang oleh seseorang, misalnya dokter, insinyur, doktorandus, doktor ataupun gelar profesional seperti profesor. Namun sering timbul akibat-akibat negatif dari kondisi ini jika gelar-gelar yang disandang tersebut lebih dinilai tinggi daripada ilmu yang dikuasainya, sehingga banyak orang yang berusaha dengan cara-cara yang tidak benar untuk memperoleh gelar kesarjanaan, misalnya dengan membeli skripsi, menyuap, ijazah palsu dan seterusnya.
Tiga Sifat Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedakan menjadi sistem pelapisan sosial tertutup, sistem pelapisan sosial terbuka, dan sistem pelapisan sosial campuran.
Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit mengadakan mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbatas pada mobilitas horisontal saja. Contoh:
- Sistem kasta.
Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brahmana.
- Rasialis.
Kulit hitam (negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa pindah kedudukan di posisi kulit putih.
- Feodal.
Kaum buruh tidak bisa pindah ke posisi juragan/majikan.
b. Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)
Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horisontal. Contoh:
- Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
- Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidikan asal ada niat dan usaha.
c.Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial c a m p u r a n m e r u p a k a n kombinasi antara stratifikasi tertutup dan terbuka. Misalnya, seorang Bali b e r k a s t a Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.
1. Pengaruh Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi Sosial dalam Masyarakat
A. Pengaruh Diferensiasi Sosial
Pada Modul terdahulu Anda telah mempelajari Diferensiasi Sosial. Masih ingatkah Anda perbedaaan antara Kemajemukan Sosial dengan Heterogenitas Sosial? Ada dua hal dalam Diferensiasi Sosial yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di Indonesia. Mari kita bahas:
* Kemajemukan Sosial :
Pengelompokkan masyarakat secara horisontal yang didasarkan pada adanya perbedaan Ras, Etnis (suku bangsa), klen, agama dsbnya.
Kemajemukan masyarakat Indonesia terbentuk karena beberapa hal seperti:
- Keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari beberapa ribu pulau besar kecil dari barat sampai ke timur yang kemudian tumbuh menjadi satu kesatuan sukubangsa yang melahirkan berbagai ragam budaya.
- Indonesia terletak antara dua titik silang samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Letak strategis ini merupakan daya tarik bagi bangsa-bangsa asing datang dan singgah di wilayah ini sehingga Amalgamasi (perkawinan campur) dan Asimilasi (perbauran budaya) diantara kaum pendatang dan penduduk asli maupun antara kaum pendatang sendiri terjadi. Hal demikian membuat masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai ras, etnis dan sebagainya.
Iklim yang berbeda antara daerah satu dengan daerah lain menimbulkan perbedaan mata pencaharian penduduknya. Contoh: orang yang tinggal di wilayah pedalaman cenderung bermata pencaharian sebagai petani, sedangkan yang tinggal di wilayah pantai sebagai nelayan/pelaut.
Dapat ditarik kesimpulan dengan adanya Diferensiasi Sosial mempengaruhi terbentuknya anekaragam budaya, misalnya : bahasa, dialek, kesenian, arsitektur, alat-alat budaya, dsbnya.
b. H e t e r o g e n i t a s
Ada dua macam Heterogenitas, yakni:
1) Heterogenitas masyarakat berdasarkan profesi/pekerjaan.
Masyarakat Indonesia yang besar ini penduduknya terdiri dari berbagai profesi seperti pegawai negeri, tentara, pedagang, pegawai swasta, dsbnya. Setiap pekerjaan memerlukan tuntutan profesionalisme agar dpat dikatakan berhasil. Untuk itu diperlukan penguasaan ilmu dan melatih ketrampilan yang berkaitan dengan setiap pekerjaan. Setiap pekerjaan juga memiliki fungsi di masyarakat karena merupakan bagian dari struktur masyarakat itu sendiri. Hubungan antar profesi atau orang yang memiliki profesi yang berbeda hendaknya merupakan hubungan horisontal dan hubungan saling menghargai biarpun berbeda fungsi, tugas, bahkan berbeda penghasilan.
2) Heterogenitas atas dasar jenis kelamin.
Di Indonesia biarpun secara konstitusional tidak terdapat diskriminasi sosial atas dasar jenis kelamin, namun pandangan “gender” masih dianut sebagaian besar masyarakat Indonesia.
Pandangan gender ini dikarenakan faktor kebudayaan dan agama. Apabila kita melihat kemajuan Indoensia sekarang ini, banyak perempuan yang berhasil mengusai Iptek dan memiliki posisi yang strategis dalam masyarakat. Maka sudah selayaknya perbedaan jenis kelamin dikatagorikan secara horisontal, yaitu hubungan kesejajaran yang saling membutuhkan dan saling melengkapi.
Dari kedua macam Heterogenitas tersebut dapat ditarik kesimpulan : melalui Hetrogenitas memunculkan adanya profesionalismeprofesionalisme dalam pekerjaan, keterampilan-keterampilan khusus (skill), spesialisasi-spesialisasi pekerjaan, penyadaran HAM, dsbnya.
B. Pengaruh Stratifikasi Sosial
Selain menimbulkan tumbuhnya pelapisan dalam masyarakat, juga munculnya kelas-kelas sosial atau golongan sosial yang telah kita pelajari pada Modul terdahulu.
Adanya pelapisan sosial dapat pula mengakibatkan atau mempengaruhi tindakan-tindakan warga masyarakat dalam interaksi sosialnya. Pola tindakan individu-individu masyarakat sebagai konsekwensi dari adanya perbedaan status dan peran sosial akan muncul dengan sendirinya.
Pelapisan masyarakat mempengaruhi munculnya life chesser & life stile tertentu dalam masyarakat, yaitu kemudahan hidup dan gaya hidup tersendiri. Misalnya, orang kaya (lapisan atas) akan mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam hidupnya, jika dibandingkan orang miskin (lapisan bawah); dan orang kaya akan punya gaya hidup tertentu yang berbeda dengan orang miskin.
Contoh pelapisan sosial yang terjadi dalam masyarakat
Gaya hidup masing-masing orang berbeda-beda. Ada orang yang hidup dengan gaya mewah, adapula yang hidup secara sederhana.Pola hidup masyakat tentunya dilatarbelakangi oleh statusnya dalam masyarakat.
Diferensiasi social
Pada intinya hal-hal yang terdapat dalam diferensiasi itu tidak terdapat tingkatan-tingkatan, namun yang membedakan satu individu dengan individu yang lainnya adalah sesuatu yang biasanya telah ia bawa sejak lahir. contohnya saja, suku sunda dan suku batak memiliki kelebihan masing-masing. jadi seseorang tidak bisa menganggap suku bangsanya lebih baik, karena itu akan menimbulkan etnosentrisme dalam masyarakat. diferensiasi merupakan perbedaan yang dapat kita lihat dan kita rasakan dalam masyarakat, bukan untuk menjadikan kita berbeda tingkat sosialnya seperti yang terjadi di Afrika Selatan.
“The history of all hitherto existing society is the history of class struggles".
Mobilitas Sosial yang disebut tadi berarti perpindahan status dalam stratifikasi sosial. Banyak sebab yang dapat memungkinkan individu atau kelompok berpindah status, pendidikan dan pekerjaan misalnya adalah salah satu faktor yang mungkin dapat meyebabkan perpindahan status ini. Masih banyak sebab-sebab lain dalam mobilitas sosial ini, namun yang menjadi pertanyaan saya adalah kondisi dan atas dasar apa individu maupun kelompok melakukan perpindahan status ini? Tetapi biarlah pertanyaan ini tetap menjadi pertanyaan.
“ Historically four basic systems of stratification have existed in human societies: slavery, caste, estates and class ” [2]
Stratifikasi sosial digunakan untuk menunjukan ketidaksamaan dalam masyarakat manusia. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwa banyak dimensi dalam stratifikasi sosial akan tetapi tidak semua dimensi akan ditulis dalam makalah ini mengingat keterbatasan pengetahuan saya soal hal ini. Namun beberapa stratifikasi yang menurut saya penting akan saya tuliskan. Pertama, perbudakan seperti yang kita tahu pada sistem seperti ini masyarakat di bagi menjadi dua pemilik budak dan budak. Dimana seseorang atau kelompok orang dimiliki sebagai hak milik seseorang. Namun hal ini sudah lama tidak berlaku lagi saat ini. Salah satu penyebab adanyanya budak adalah perang. Dimana pihak yang kalah kemudian dijadikan tawanan kerja paksa.. Kedua, kasta hal ini berhubungan dengan kepercayaan bansa India dimana mereka percaya terhadap reinkarnasi bahwa manusia akan dilahirkan kembali, dan setiap orang wajib menjalani hidupnya sesuai dengan kastanya, dan bagi mereka yang tidak menjalankan kewajiban sesuai kastanya maka dalam kehidupan mendatang akan dilahirkan kembali didalam kasta yang lebih rendah. Setiap orang dalam sistem kasta ini mendapatkan tingkatan kastanya berdasarkan kasta keluarga mereka. Namun yang masih belum jelas disini adalah atas dasar apa dan darimana keluarga mereka mendapatkan kedudukan dalam kasta tersebut? Ketiga, Estates hal ini erat hubungannya dengan sistem Feodal dimana kedudukan seseorang dinilai dari seberapa banyak dia memiliki tanah. Tanah ini merupakan hadiah atau penghargaan untuk para raja-raja bangsawaan atas dukungannya terhadap raja. Keempat, kelas ialah pembagian masyarakat atas dasar kemampuan ekonomi yang tercermin dalam gaya hidupnya.
Perubahan sosial yang dialami oleh masyarakat sejak jaman perbudakan sampai revolusi industri hingga sekarang secara mendasar dan menyeluruh telah memperlihatakan pembagian kerja dalam masyarakat. Berdasarkan hal tersebut maka diferensiasi sosial yang tidak hanya berarti peningkatan perbedaan status secara horizontal maupun vertical. Hal ini telah menarik para perintis sosiologi awal untuk memperhatikan diferensiasi sosial, yang termasuk juga stratifikasi sosial. Perbedaan yang terlihat di dalam masyarakat ternyata juga memiliki berbagai macam implikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Status yang diperoleh kemudian menjadi kunci akses kesegala macam hak-hak istimewa dalam masyarakat yang pada dasarnya hak istimewa tersebut merupakan hasil dari rampasan dan penguasaan secara paksa oleh yang satu terhadap yang lainya, mendominasi dan didominasi, yang pada akhirnya merupakan sumber dari ketidaksamaan di dalam masyarakat. Berbagai macam argumentasi pun diajukan guna menjelaskan ketidaksamaan ini yang kemudian berubah menjadi ketidakadilan.
Kelas dan Stratifikasi
Karl Marx
Seseorang yang mengguncangkan dunia dengan analisisnya yang tajam dan akurat tentang keadaan manusia di era kapitalisme. Pembedahan atas situasi ekonomi dan politik yang dilakukannya dalam kondisi pelarian politik dan kematian tragis anak-anaknya. Tak ada ungkapan yang tepat selain revolusioner baginya. Lahir di Jerman pada tanggal 5 mei 1818. Semuanya berawal ketika ia kuliah di di Berlin, dari sini lah seorang pelarian politik di kemudian hari ini memberi inspirasi kepada jutaan umat manusia untuk mengemansipasi dirinya lewat perjuangan kelas akibat ketertindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh para kapitalis.
Seluruh pemikiran Karl Marx berdasarkan bahwa pelaku-pelaku utama dalam masyarakat adalah kelas-kelas sosial. Salah satu kesulitan dalam teori kelasnya Marx adalah meskipun Marx sering berbicara tentang kelas-kelas sosial, namun ia tidak pernah mendefinisikan apa yang dimaksud dengan istilah “kelas”. Ada baiknya kita ambil saja salah satu definisi tentang kelas dari seorang marxis sekaligus pemimpin revolusi Bolshevik 1917 yang termahsyur, Lenin mendefinisikan kelas sebagai berikut:
“Classes are large groups of people differing from each other by the place they occupy in a historically determined system of social production, by their relation (in most cases fixed and formulated in law) to the means of production, by their role in the social organisation of labour, and, consequently, by the dimensions and mode of acquiring the share of social wealth of which they dispose. Classes are groups of people one of which can appropriate the labour of another owing to the different places they occupy in a definite system of social economy“.
Inilah definisi kelas khas kaum marxis. Kelas-kelas sosial pun dibedakan menjadi berdasarkan posisinya dalam produksi, menurut mereka:
“kriteria fundamental yang membedakan kelas-kelas adalah posisi yang mereka duduki dalam produksi sosial, dan kosekuensinya menentukan relasi mereka terhadap alat-alat produksi”.
Relasi dimana kelas-kelas menempati posisi atas alat produksi menentukan peran mereka dalam organisasi sosial kerja, sebab kelas-kelas memiliki fungsi-fungsi yang berbeda dalam produksi sosial. Dalam masyarakat antagonis beberapa kelas mengatur produksi, mengatur perekonomian dan mengatur seluruh urusan-urusan sosial, misalnya mereka yang memiliki keunggulan dalam kerja mental. Sementara kelas-kelas lainnya menderita di bawah beban kewajiban kerja fisik yang berat. Biasanya, dalam masyarakat yang tebagi atas kelas-kelas, manajemen produksi dijalankan oleh kelas yang memiliki alat produksi. Namun segera setelah beberapa relasi produksi menjadi sebuah halangan bagi perkembangan tenaga-tenaga produktif, kelas-kelas penguasa pun harus mulai memainkan peran yang berbeda dalam organisasi sosial kerja. Ia berangsur-angsur kehilangan signifikansinya sebagai organisator produksi, dan merosot posisisnya menjadi sebuah sampah parasitis dalam tubuh masyarakat dan hidup atas kerja keras orang lain. Seperti pada nasib tuan tanah feodal dulu, hal inilah yang dialami oleh para borjuasi atau kapitalis kini. Menurut Marx kehancuran feodalisme dan lahirnya kapitalisme telah membuat terpecahnya masyarakat menjadi dua kelas yang sifatnya antagonistis, yaitu kelas borjuis yang memiliki alat produksi dan kelas proletar yang tidak mempunyai alat produksi. Dua kelas inilah yang dalam terminologi marxis disebut kelas fundamental karena sifatnya yang tak terdamaikan atau antagonis. Penghancuran atas salah satunya merupakan gerak sejarah yang di manifestasikan lewat perjuangan kelas.
Marx membuktikan bahwa masyarakat kapitalis adalah masyarakat terakhir dalam sejarah manusia dengan kelas-kelas antagonistisnya. Jalan yang mengarahkan kepada masyarakat tanpa kelas terletak pada perjuangan kelas proletariat melawan segala bentuk penindasan, demi membangun kekuatannya dalam masyarakat yang diciptakan untuk melindungi kepentingan rakyat pekerja.
Marx memandang kelas pekerja sebagai kekuatan sosial utama di jaman kapitalisme yang memiliki kemampuan untuk mengeleminasi sistem kapitalis dan menciptakan sebuah masyarakat baru tanpa kelas yang terbebas dari eksploitasi.
Asal Mula Kelas.
Dalam hukum perkembangan masyarakat Marx berdasarkan salah satu jarannya tentang materialisme histories, Pada awalnya tidak ada kelas dalam masyarakat yaitu pada jaman komunal primitif. Pada jaman ini, orang harus saling toltong menolong dalam rangka terus bertahan hidup dan melindungi diri berbagai macam binatang pemangsa. Hal ini memaksa orang harus tinggal menetap, untuk bertahan hidup manusia saat itu berburu hewan, mengumpulkan makanan (tanaman dan buah-buahan) yang dapat dimakan bersama. Tempat tinggal mereka pun dibedakan, dan menjadi pembeda antara kelompok manusia yang satu atas yang lainnya. Berbagai macam keterampilan, bahasa muncul. Semua hal ini diidetifikasikan sebagai suku atau klan.
Pada saaat ini kerja awalnya dibedakan anatara laki-laki dan perempuan, lalu dibedakan atas dasar kelompok-kelompok usia yang berbeda. Lalu berkembang pada kakhasan pekerjaan rutin yang dilakukan oleh komunitas penanam, peternak dan pemburu. Pembagian kerja merupakan hak prerogatif dari anggota komunitas yang tertua dan paling berpengalaman. Namun demikian, mereka tidaklah dianggap sebagai kelas yang memiliki privilese istimewa karena jumlah mereka yang sedikit jika dibandingkan dengan mayoritas dewasa dikomunitas disamping hak mereka didapat melalui persetujuan dari mayoritas dewasa. Posisi khusus mereka terletak pada otoritasnya, nukan pada kepemilikan properti atau kekuatan mereka. Pada jaman ini produksi yang dihasilkan orang dibuat hanya untuk mencukupi kebutuhan-kebutuhan langsung, jadi tidak terdapat lahan untuk mengakarnya ketidakadilan sosial.
Setelah jaman komunal primitif berangsur-angsur pudar, banyak hal yang menjadi penyebab hal ini terjadi, selain keharusan sejarah. Berakhirnya jaman ini tidak terjadi secara berbarengan berbagai daerah didunia ini sebgai contoh negara-negara Afrika, formasi kelas-kelas baru mulai terbentuk setelah rejim-rejim kolonial tresingkirkan, yaitu sejak tahun 1950-an sedangkan kelas di Mesir Kuno pada akhir milenium ke-4 dan di awal milenium ke-3 sebelum masehi.
Kemunculan kelas-kelas sosial ini terjadi akibat dari pembagian kerja secara sosial, disaat kepemilikan pribadi atas alat produksi menjadi sebuah kenyataan. Marx melakukan stratifikasi terhadap masyarakat berdasarkan dimensi ekonomi, dimana hal yang paling pokok menurut ia adalah kepemilikan atas alat produksi. Seperti yang selalu dia katakan dalam berbagai tulisannya, pembagian kerja yang merupakan sumber ketidakadilan sosial timbul saat memudarnya masyarakat komunal primitif.
“Salah satu dari pra kondisi yang paling general dari kehadiran masyarakat yang terbagi atas kelas adalah perkembangan tenaga-tenaga produktif. Dalam perjalanan panjangnya, proses ini menimbulkan tingkat produksi yang bergerak jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan orang untuk melanjutkan hidupnya. Jadi surplus produk memberikan kepada umat manusia lebih dari yang dibutuhkannya, dan sebagai konsekuensinya, ketidakadilan sosial secara bertahap tumbuh dengan sendirinya dalam masyarakat”[5]
Bersamaan dengan kepemilikan pribadi atas alat produksi yang menguasai perkembangan tenaga-tenaga produktif, dan produksi individu atau keluarga telah menghapuska produksi komunal sebelumnya, ketidak adilan ekonomi menjadi tidak terhindarkan lagi dan hal ini mengkondisikan masyarakat ke dalam kelas-kelas.
Para pemimpin dan tetua komunitas yang mempunyai otoritas dalam komuntas untuk melindungi kepentingan bersama ini. Temasuk dalam hal pengawasan dan pengambilan putusan yang dianggal adil oleh komunitas. Hal demikian juga dapat kita sebut sebagai kekuasaan negara elementer, namun pada dasarnya mereka tidak pernah berhenti mengabdi pada komunitas.
Perkembangan tenaga-tenaga produktif dan penggabungan komunitas-komunitas tersebut kedalam entitas yang lebih besar mengarah pada pembagian kerja lebih lanjut. Dalam perkembangnya terbentuklah badan-badan khusus yang berfungsi untuk melindungi kepentingan bersama serta juri dalam perselisihan antar komunitas. Secara bertahap badan-badan ini mendapat otonomi yang semakin besar dan memisahkan dirinya dari masyarakat sekaligus merepresentasikan kepentingan kelompok sosial utama. Otonomi ini dari pejabat urusan publik berubah menjadi bentuk dominasi terhadap masyarakat yang membentuknya, dulunya abdi publik sekarang para pejabat itu berubah menjadi tuan-tuan (lords).
“Pada umumnya, perkembangan produksi sosial menuntut adanya tenaga kerja manusia yang lebih banyak guna terlibat dalam produksi material. Tidak ada komunitas yang sanggup mnyediakan hal itu sendiri, dan tenaga kerja manusia tambahan disediakan oleh peperangan”
Cara lain pembentukan kelas adalah melalui pembudakan terhadap bala tentara musuh yang tertangkap saat perang. Para peserta perang mulai menyadari bahwa lebih bermanfaaat untuk membiarkan para tawanan mereka terus hidup dan memaksa mereka unutuk bekerja. Jadi hak-hak mereka sebagai manusia dicabut dan diperlakukan tak ubahnya seperti binatang pekerja.
Dalam perkembangan masyarakat selanjutnya, kita akan mengenal kelas-kelas yang salingbbertentangan. Hal ini disebabkan karena kepentingan mereka selalu tidak dapat diketemukan. Dalam terminologi marxis kita akan mengenal bahwa kelas di bedakan menjadi dua macam bentuk dan sifatnya yaitu kelas-kelas fundamental dan kelas-kelas non fundamental.
Kelas-kelas fundamental adalah kelas-kelas yang keberadaannya ditentukan oleh corak produksi yang mendominasi dalam formasi sosial ekonomi tertentu. Setiap formasi sosial ekonomi yang antagonistis memilki dua kelas fundamental. Kelas-kelas ini bisa berupa pemilik budak dan budak, tuan feudal dan hambanya, ataupaun borjuasi dan proletar. Kontradiksi-kontradiksi antagonistis diantara kelas-kelas tersebut berubah oleh penggantian sistem yang berlaku dengan sebuah sistem baru yang progresif.
Kelas-kelas non fundamental adalah bekas-bekas atau sisa-sisa dari kelas dalam sistem yang lama dan masih bisa dilihat dalam sistem yang baru, biasanya kelas ini menumbuhkan corak produksi yang baru dalam bentuk struktur ekonomi yang spesifik. Sebagai contoh para pedagang, lintah darat, petani-petani kecil yang terdapat dalam masyarakat kepemilikan budak dengan kelas yang fundamental pemilik budak dan budak.
Kelas-kelas fundamental dan non fundamental saling bergantung secara erat, karena dalam perkembangan sejarahnya, kelas fundamental bisa menjadi non fundamental, dan demikian pula sebaliknya. Sebuah kels fundamental merosot menjadi sebuah kelas non fundamental saaat corak produksi yang dominan yang mendasarinya secara bertahap berubah menjadi sebuah struktur sosial ekonomi yang sekunder. Sebuah kelas non fundamental menjadi fundamental saat sebuah struktur sosial ekonomi baru yang terdapat di dalam sebuah formasi sosial ekonomi berubah menjadi corak produksi yang dominan.
Masyarakat juga bisa memiliki lapisan orang-orang yang tidak termasuk ke dalam kelas-kelas tertentu, yaitu elemen-elemen tak berkelas yang telah kehilangan ikatan-ikatan dengan kelas asalnya. Hal ini berlaku bagi lumpen-lumpen kapitalisme yang terdiri atas orang-orang tanpa pekerjaan tertentu atau yang biasa disebut sebagai sampah-sampah masyarakat, seperti pengemis, pelacur, pencuri dan sejenisnya.
Selain kelas, terdapat kelompok sosial besar lain yang garis pembatasnya terletak pada latar yang berbeda dengan latar-latar pembagian kelas, ia munkin saja didasrkan pada usia, jenis kelamin, ras, profesi, kebangsaaan, dan pembeda lainnya.
Max Weber
Lahir di Jerman pada tahun 1864. Belajar ilmu hukum di Universitas Berlin dan Universitas Heidelberg, selepas studinya ia bekerja sebagai dosen ilmu hokum di Univesitas tempat ia belajar dulu. Selain mengajar ia pun berperan sebagai konsulatan dan peneliti, dan semasa Perang Dunia I ia mengabdi di angkatan bersenjata Jerman. Pada tahun 1889 ia menulis sebuah disertasi yang berjudul A Contribution to the History of Medieval Buisness Organization. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism. Dalam bukunya ini Weber menggambarkan hubungan antara Etika Protestant dan Kapitalisme di Eropa Barat.
Max Weber termasuk diantara salah satu sosiolog yang tidak sepakat dengan penggunaan dimensi ekonomi semata-mata untuk menentukan stratifikasi sosial. Giddens dalam bukunya sociology menunjukan persamaan antara Marx dan Weber:
“Like Marx, weber regarded society as characterized by conflict over power and resources”
Sekaligus pebedaannya,
“Although Weber accepted Marx’s view that class is founded on objectively given economic factors as important in class formation than were recognized by Marx”
baik Marx maupun Weber keduanya melihat bahwasahnya kelas adalah stratifikasi atas masyarakat berdasarkan dimensi ekonomi. Namun seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa Weber termasuk ilmuwan sosial yang menolak penggunaan dimensi stratifikasi ekonomi semata-mata dalam menntukan stratifikasi sosial masyarakat.
Menurut Weber , stratifikasi sosial tidak sesederhana demikian hingga dapat dijelaskan lewat kelas, ia menambahkan dalam uraiannya tentang kekuasaan dalam masyarakat bahwa pembedaan masyarakat dapat dilihat melalui kelompok status, partai dan kelas.
Kelas menurut Weber adalah sejumlah orang yang mempunyai persamaan dalam hal peluang untuk hidup atau nasib (life chances). Peluang untuk hidup orang tersebut ditentukan oleh kepentingan ekonomi berupa penguasaan atas barang serta kesempatan untuk memperoleh penghasilan dalam pasaran komoditas atau pasaran kerja. Sebagai akibat dari dipunyainya persamaan untuk menguasai barang dan jasa sehingga diperoleh penghasilan tertentu, mka orang yang berada di kelas yang sama mempunyai persamaan yang dinamakan situasi kelas.
Situasi kelas adalah persamaan dalam hal peluang untuk menguasai persediaan barang, pengalaman hidup pribadi, atau cara hidup. Kategori dasar untuk membedakan kelas ialah kekayaan yang dimilikinya, dan faktor yang menciptakan kelas ialah kepentingan ekonomi, pada titik ini konsep kelas Marx dan Weber adalah sama, yaitu pembedaan kelas dan faktor yang mendorong terciptanya kelas.
Dimensi lain yang digunakan weber adalah ialah dimensi kehormatan. Manusia dikelompokan dalam kelompok status. Kelompok status merupakan orang yang berada dalam situasi status yang sama, dimana orang yang peluang hidupnya ditentukan oleh ukuran kehormatan, coba lihat pembedaan sultan dan abdi dalem yang ada di Yogyakarta. Persamaan kehormatan status dinyatakan dalm persamaan gaya hidup. Dalam bidang pergaulan hal ini dapat berupa pembatasan dalam pergaulan dengan orang yang statusnya lebih rendah. Selain danya pembatasan dalam pergaulan, menurut Weber kelompok status ditandai oleh adanya hak istimewa dan monopoli atas barang dan kesempatan ideal maupun material. Dalam hal gaya hidup, hal ini bisa kita lihat dari gaya konsumsi.
Disamping pembedaan lewat dimensi ekonomi dan kehormatan Weber menambakan bahwa masyarakat juga dibeda-bedakan berdasarkan kekuasaan yang dimilikinya. Kekuasaan menurut Weber adalah peluang bagi seseorang atau sejumlah orang untuk mewujudkan keinginan mereka sendiri melalui suatu tindakan komunal meskipun mengalami tentangan dari orang lain yang ikut serta dalam tindakan komunal itu. Bentuk dari tindakan komunal ini adalah partai yang diorientasikan pada diperolehnya kekuasaan.
Erik Olin Wright
Sosiolog dari Amerika ini telah membangun teori kelas kombinasi dari pendekatan Marx dan Weber. Sulit rasanya untuk menulis tentang ilmuan sosial yang satu ini, hal ini di sebabkan Wright sendiri tidak pernah mendefinisikan kelas menurut dia sendiri, disamping buat saya adalah referensi tentang pikirannya dalam bentuk buku masih jarang ditemui, beberapa bahan dapat saya temukan lewat internet namun hal ini juga ternyata tidak cukup memuaskan. Dari berbagai tulisannnya tentang sosiologi Erik Olin Wright dapat digolongkan ke kelompok Neo Marxis. Tulisannya tentang kelas dapat banyak ditemukan di Internet. Menurut Wright:
“According to Wright, there are three dimensions of control economic recources in modern capitalist production, and these allow us to identify the major classes which exist”.
- Control over investments or money capital.
- Control over the physically means of production (land or Factories and offices).
- Control over labour power.
Ketiga point diatas seluruhnya dikuasi oleh kelas kapitalis, sedangkan kelas pekerjanya sendiri tidak menguasai satu pun dari tiga hal diatas. Padahal menurut Marx bahwa point pertama dan kedua diatas dihasilkan dari point ketiga. Ironis memang jika melihat hal demikian, bayangkan ada sekelompok orang yang telah seharian bekerja keras namun hasil kerja tidak dapat ia nikmati sendiri.
Diantara dua kelas utama ini ada kelompok yang posisinya ambigu menurut dia, sebut saja seprti yang dia contohkan yaitu para manajer dan pekerja kerah putih atau para professional. Letak ambiguitas orang-orang ini dalam sistem produksi adalah mereka mampu mempengaruhi beberapa aspek dari produksi namun meraka tidak mampu menguasinya. Sama seperti para pekerja manual mereka menjual tenaga mereka kepada kaum kapitalis lewat kontrak kerja namun disatu sisi mereka mempunyai wewenang dalam perencanaan kerja atau kerja mental.
Kita tentu masih ingat apa yang dikatakan Marx, bahwa diantara kelas borjuis dan kelas proletar ada kelas yang dinamakan kelas borjuis kecil, yang dalam perkembangannya akan jatuh kedalam barisan kaum proletariat disebabkan karena mereka tidak mempunyai modal yang cukup besar dalam usahanya. Dalam perjalanan kapitalisme besar tidaknya modal menentukan dalam usaha mempertahankan produksi dan mendapatkan surplus guna memperbesar modal produksi. Sistem monopoli dan persaingan bebas yang berlaku didalam kapitalisme telah memaksa orang-orang yang seperti disebut oleh wright “contradictory class locations” akhirnya habis dimakan oleh kapitalis-kapitalis besar.
Tentu ada sebab-sebab yang menjadikannya kelompok ini muncul, yaitu keahlian dan kemampuan. Dalam konsep mobilitas sosial factor pendidikan mainkan peranan yang cukup penting disini lewat pendidikan individu yang berasal dari status rendah namun berpendidikan tinggi, dalam masyarakat kapitalis yang membutuhkan para pekerja ahli misalnya manajer guna mengawasi berjalannya sistem produksi. Kelas pekerja tidak mempunyai keahlian yang cukup dalam hal manajemen ini karena cuma tenaga yang mereka punya. Itupun akan digantikan oleh mesin-mesin sering dengan kemajuan teknologi. Tentu ada aspek-aspek lain dari hal ini. Biasanya pekerja yang mempunyai keahlian dan berpengalaman dalam bidang dapat memperoleh upah kerja diatas-rata yang diterima oleh pekerja biasa. Kesempatan kerja pun terbuka lebih jauh dan lebar dari kelompok ini akibat dari keahlian yang dimilikinya. Menurut Wright:
“ employees with knowledge and skills are more difficult to monitor and control, employers are obliged to secure their loyalty and cooperation by rewarding them accordingly”
Dimensi kekuasaan dalam sistem produksi dari kelompok ini juga ikut memasukan konsepnya Weber dalam stratifikasi sosialnya Erik Olin Wright. Pada hakekatnya sifat dari kelompok ini adalah oportunis dan pragmatis.
Berdasarkan pengalaman sehari-hari, menurut saya pendekatan Marx dalam melakukan stratifikasi terhadap masyarakat dimana saya hidup cukup relevan. Masyarakat di dalam negara dunia ketiga seperti Indonesia dimana kesenjangan antara yang kaya dan yang dimiskinkan demikian lebarnya, pendekatan Marx bisa menjelaskan apa yang saya alami sehari-hari.
Jaman yang sedang berlangsung ini adalah jaman kapitalisme yang telah mencapai tahapnya yang tertinggi yaitu Imperialisme, dan sedang berjalan menuju kehancurannya, seperti yang diyakini Marx dan para Marxis. Dua kelas utama dalam masyarakat ini adalah borjuis dan proletar. Borjuasi terdiri dari para pemilik properti pertanian dan industri besar yang hanya kerja di perusahaanya, dan menikmati surplus dalam bentuk keuntungan yang didapatnya dari hasil kerja para buruh upahan yang tetap tidak terbayar sesuai dengan kebutuhannya di dalam jaman kapitalisme. Kelas yang berseberangan dengan borjuis, yang di satu sisi merupakan prakondisi dari kemunculannya, dan disisi lain adalah proletar, yaitu kelas yang harus menjual tenaganya kepada para kapitalis sekedar untuk terus bertahan hidup.
Ketergantungan kelas ini terhadap para kapitalis cukup besar dan hal ini diwujudkan dalam bentuk yang berbeda-beda. Seorang pekerja tidak berhak atas alat produksi. Ia bergantung pada tenaganya sendiri dalam kehidupan, dalam jaman ini tak seorangpun kecuali para kapitalis yang memiliki alat produksi dapat membeli dan mempergunakan tenga kerja. Konsekuensi dari hal ini adalah para pekerja terpaksa bekerja untuk para kapitalis tersebut. Borjuis bergerak terus dalam perkembangannya yang sesuai dengan tahap-tahap perkembangan ekonomi dari masyarakat kapitalis. Munculnya borjuis sebagai kelas dihubungkan dengan jaman yang disebut akumulasi modal primitif. Indikasi dari jaman ini adalah perampasan tanah dan instrumen kerja milik masyarakat luas, melalui eleman terpentingnya yaitu perampasan barang-barang kolonial dan ekspansionisme. Disaat semua syarat telah tersedia bagi mulainya sebuah corak produksi kapitalis. Syarat-syarat itu termasuk telah hadirnya masssa pekerja upahan independen dan konsentrasi kapital ditangan borjuasi.
Di Indonesia hal ini berlangsung dengan masuknya kolonialisme Belanda. VOC sebagai serikat dagangnya waktu itu. Bentuk-bentuk pengisapan yang dilakukan VOC waktu itu adalah leveratien dan contingenten. Leverienten adalah sistem penyerahan hasil pertanian oleh para bupati pesisir kepada VOC dalam jumlah yang ditentukan oleh VOC. Contingeten adalah sistem jatah penyerahan hasil pertanian yang dikenakan pada bupati di pesisir Jawa oleh VOC, dengan demikian kaum tani pada masa itu menderita dua macam penindasan, dari raja-raja, dan dari VOC. Hal ini terus berjalan hingga sampai ke masa imperialisme yang telah menimbulkan situasi baru di Indonesia. Kemunculan pabrik-pabrik, perkebunan-perkebunan besar, pelabuhan-pelabuhan, hingga perusahaan swasta membutuhkan tenaga kerja terdidik untuk melaksanakan pekerjaan yang serba modern. Perubahan tanah-tanah pertanian yang kini telah berubah menjadi kawasan tempat berdirinya berbagai fasilitas produksi. Bersamaaan dengan terjadinya hal ini kelas pekerja pun muncul.
Perkembangan borjuasi dikaitkan dengan revolusi industri dan kapitalisme pra monopoli sampai periode monopoli kapitalisme dan revolusi sains dan teknologi. Awal abad ke 20 adalah tahu oligarki finansial timbul kepermukaan. Sebagai akibat munculnya jutawan-jutawan, kebangkrutan banyak pengusaha kecil dan menengah, konsentrasi modal dan produksi, inilah basis ekonomi kapitalisme mulai masuk ketahapannya yang tertinggi yaitu Imperialisme. Dalam Imperialisme, borjuasi cenderung secara terus-menerus mengecil jumlahnya hal ini diakibatkan oleh persaingan bebas yang menjadi hukum dijaman imperialisme ini. Konsekuensi logis dari hal ini adalah meningkatnya jumlah kaum pekerja.
Proses pembentukan kelas pekerja di negara berkembang, yang ekonominya seringkali merupakan kombinasi antara elemen kapitalis, foedal bahkan patriarkal, merupakan proses yang rumit dan pelik. Hampir tidak ada negara didunia ini dimana kapitalisme hadir dalm bentuk aslinya. Biasanya kelas warisan dari sistem sosial ekonomi sebelumnya terus bertahan dan berdampingan dengan kapitalis, khususnya sisa-sisa dari kelas feodal atau pemilik tanah yang mendominasi terus bertahan di bebrapa negara bahkan dibawah kapitalisme seperti di Indonesia dapat kita jumpai hubungan-hubungan itu dibeberapa daerah misalnya Yogyakarta dan daerah Jawa lainnya.
Pada masyrakat kapitalis, terdapat beberapa strata kecil yang terdiridari pemilik alat produksi kecil strata ini terbentuk dari petani dan borjusi kecil perkotaaan. Namun dalam perkembangan selanjutnya strata ini akan hancur jika relasi-relasi produksi akan menajam dalam perkembangannya. Seperti yang dapat kita lihat didalam kondisi di Indonesia dimana angka tenaga kerja yang terus meningkat tak pernah tercukupi oleh lapangan pekerjaan yang tersedia. Negara yang merupakan alat dari kelas yang berkuasa- di Indonesia adalah kelas kapitalis dan kaum komprador-telah melegitimasi atas kondisi yang terjadi dan bahkan mengkondisikan hal ini demi kepentingan kelas yang berkuasa.
Kemiskinan dan Eksklusi Sosial
Urbanisasi Sebagai salah satu implikasi dari pertumbuhan penduduk menjadi, salah satu factor dari kemiskinan. Harapan akan hidup lebih baik yang dibawa dari daerah asalnya ke tempatnya yang baru. Namun di tempatnya yang baru harapanya ternyata tidak juga terpenuhi. Akhirnya ditempat baru ini hanya kemiskinan dan hidup yang tak terjamin dengan penghasilan yang tidak tetap dan dibawah standar guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hidup di daerah perkotaan seperti kota Jakarta ini tentu biaya hidup yang dikeluarkan tidak murah, akhirnya orang hanya bisa berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dengan segala macam kebutuhan primer dan sekundernya hari ini. Persoalan kebutuhan makanan, pakaian dan tempat tinggal pun muncul sebgai masalah pertama untuk hidup diperkotaan. Baru-baru penggusuran terhadap perumahan rakyat dilakukan oleh Pemerintahan Daerah Jakarta. Ada baiknya kita mundur terlebih dahulu,beberapa tahun yang lalu World Bank menyodorkan program tata kota yaitu “ city without slumps”, disamping pemotongan subsidi publik seperti BBM, pendidikan, etc guna mendapatkan pinjaman hutang luar negeri. Program ini segera direspon oleh Pemda Jakarta dengan semangat juang yang tinggi. Akhir tahun 2001 pun dijadwalkan sebagai waktunya pelaksanaan program ini, mulai dari penggarukan becak yang dianggap sebagai biang keladi kemacetan di Jakarta dan kemudian disusul oleh penggusuran perumahan rakyat yang dianggap kumuh. Umumnya masyarakat yang tinggal di kawasan perumahan ini adalah masyarakat yang mempunyai status kemiskinan absolut menurut Giddens. Program World Bank ini ternyata dipakai oleh Pemda Jakarta guna menghilangkan perkampungan yang menurut mereka dari sanalah segala macam bentuk kriminalitas itu timbul. Kemiskinan yang dialami penduduk kota ini telah mengakibatkan dicabutnya hak mereka untuk bertempat tinggal di kota metropolitan ini oleh negara dimana dalm kondisinya agar mendapat pinjaman diri negara luar, yang padahal belum tentu pinjaman yang mengatasnamakan rakyat itu jatuh ketangan rakyat, karena korupsi sudah sedemikian akutnya di pemerintahan negara ini.
Menurut saya penggusuran yang dilakukan ini merupakan salah satu factor kemiskinan tetap ada di kota Jakarta ini. Dengan dicabutnya hak asasi manusia untuk bertempat tinggal ini, warga kota Jakarta harus bekerja berkali-kali lipat lagi untuk memenuhi kebutuhan primer yang satu ini, padahal kehidupan sehari-hari kebutuhan primer yang lain belum tentu bisa tercukupi oleh penghasilan yang didapatkan.
Namun bisa juga berlaku sebaliknya, bahwa kemiskinan yang diderita orang-orang ini adalah karena ekslusi sosial dari negara dan kelas dalam masyarakat. Seperti yang saya ketahui bahwa penyediaan kebutuhan publik, seperti air minum, listrik, pendidikan, pekerjaan. Oleh negara tidak dilakukan, bahkan pengakuan sebagai penduduk kota ini pun tidak diberikan kepada mereka. Akibat dari hilangnya akses-akses seperti inilah yang juga menyebabkan kenapa kemiskinan masih saja tetap ada bahkan cenderung ke arah pemerataan kemiskinan.
apa pendapat kalian mengenai stratifikasi sosial? baik atau tidak?
Nyatanya kita diciptakan sebagai manusia yg hidup saling berdampingan, saling membantu dan membutuhkan tanpa strata. karena dari awal kita semua adalah sama di mata Allah SWT. tapi nyatanya stratifikasi sosial sangatlah nyata keberadaannya di dalam kehidupan kita sehari-hari. ada penguasa (kelas menengah ke atas), ada kelas menengah ke bawah, ada si miskin. tentu ini sangat berbenturan dengan nilai-nilai yg di ada dalam kitab suci Al-Qur'an. apabila kawan-kawan memperhatikan kehidupan di dunia, hanya ada satu tempat yg bebas dari statifikasi sosial, yaitu Masjid. di masjid semua sama tanpa srata, imam sujud ma'mum pun sujud. tak peduli sang imam lulusan sd dan presiden sebagai ma'mum, semua tetap sama. tidak ada hal-hal yg mengandung unsur merusak di dalam masjid, karena tidak ada strata, tidak seperti kehidupan di lingkungan masyarakat umumyang penuh dengan kebohongan dan saling menjatuhkan. Jadi, kesimpulannya adalah stratifikasi sosial terkadang terjadi begitu saja tanpa disadari, setiap orang berbeda beda ada yang miskin ada yang berkecukupan, jika semua disamaratakan itu tidak bisa. misalnya dalam penanganan pemerintah, mereka harus membedakan perlakuan terhadap orang miskin dan orang cukup. tapi itu semua dikembalikan kepada diri kita masing2 bagaimana menyikapi stratifikasi itu sendiri
Langganan:
Postingan (Atom)



